Rabu, 10 September 2008

VINSENSIUS DE PAUL - Pelayan Orang Miskin

Vinsensius de Paul lahir dari keluarga petani yang sederhana di Perancis (1581-1660). Ia dididik menjadi seorang yang suka bekerja keras, ulet, dan punya semangat untuk maju dalam hidup. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 1600. Dengan menjadi imam, ia berharap bisa menyejahterakan dan mengangkat status keluarganya dengan pendapatan yang ia peroleh sebagai seorang imam. Berbagai usaha dia lakukan untuk mendapatkan kedudukan dalam gereja, tetapi kerap gagal.

Situasi Perancis pada saat itu diwarnai dengan persoalan kemiskinan. Sebagian besar warga hidup dalam kemiskinan. Negara tidak peduli orang-orang miskin. Kaum bangsawan hanya mengurusi urusan politik, mereka jauh dari kehidupan rakyat miskin. Sementara itu Gereja kurang terlibat dalam karya untuk orang miskin. Imam-imam banyak tinggal di kota-kota tanpa berbuat apa-apa. Imam-imam yang ditugaskan di desa-desa tidak cakap dan bermasalah dalam hal moral. Situasi ini membuat orang miskin semakin terlantar, juga dalam hal iman.

Vinsensius de Paul menanggapi situasi kemiskinan itu. Ketika menjadi pembimbing rohani keluarga de Gondi, ia mengunjungi orang-orang miskin yang tinggal dan bekerja di tanah milik keluarga ini. Kontak langsung dengan orang miskin mengusik hatinya dan mengubah cita-citanya. Semula ia ingin mencari keuntungan materi dan status sosial, sekarang ia mau memberikan seluruh dirinya untuk orang miskin. Ia mendirikan Persaudaraan Cinta Kasih, yang anggotanya para ibu yang mau bekerja untuk orang miskin. Ia mengadakan misi umat untuk memperbaharui kehidupan iman umat di pedesaan dengan memberi katekese iman dan pelayanan sakramen tobat. Beberapa imam yang membantu karya misi umat bertekad mau memberi diri untuk karya orang miskin. Tahun 1625 berdiri Kongregasi Misi, anggotanya disebut imam Lazaris, karena mereka tinggal di bekas biara kuno di Paris bernama “Saint-Lazare.”

Kristus hidup dalam diri orang miskin

Pengalaman kontak dengan orang miskin membuat Vinsensius memandang Kristus sebagai pewarta Injil kepada orang miskin, Evangelizare Pauperibus Misit Me (Luk 4:18-19). Kristus dipandang sebagai pribadi yang hidup dalam diri kaum miskin: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Ia menyadari bahwa cinta kepada Allah itu tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada sesama yang miskin.

Keyakinan bahwa Kristus hadir dalam diri orang miskin mengubah cara pandang Vinsensius dalam memandang dan memperlakukan orang miskin. Ia memandang orang miskin sebagai “guru dan majikan”. Orang miskin itu guru karena kita dapat belajar kebijaksanaan hidup dari mereka. Orang miskin itu majikan karena kita adalah hamba dan pelayan mereka. Hanya dengan mata iman kita dapat menjumpai Kristus dalam pribadi orang miskin dan melayani orang miskin sebagai tuan dan majikan. Vinsensius mengatakan: “Hendaknya kalian semua sering merenungkan bahwa tugas terpenting dan apa yang diminta dari Allah dari kalian ialah setia melayani orang-orang miskin, yang adalah tuan-tuan kita…” (SV IX, 119).

Vinsensius melakukan karya untuk orang miskin ini dengan kasih, dan ia menghendaki karya itu kita lakukan juga, karena “kita telah dipilih Allah sebagai alat kasihNya, yang berkehendak meraja dalam diri orang miskin” (SV XII, 262). Dan karya kasih ini harus terus kita lakukan, karena “kasih itu tidak bisa tinggal diam, tetapi menggerakkan kita untuk keselamatan dan penghiburan orang lain” (SV XII, 265). Ia juga mengatakan, “Saya diutus bukan hanya untuk mencintai Allah, tetapi untuk membuat Allah dicintai” (SV XII, 262). Vinsensius menghayati kata-katanya ini. Hidupnya dipenuhi dengan karya kasih untuk orang miskin: perawatan bayi-bayi yang dibuang, pendampingan para budak, pemberian bantuan kepada korban perang dan wabah penyakit, pendirian rumah sakit untuk orang-orang miskin, dll. Ia membuat dirinya lelah demi melayani dan membebaskan orang miskin. “Jelaslah bagi saya bahwa saya akan melukai Allah, jika saya tidak melakukan apa saja yang mungkin bagi orang-orang miskin di pedesaan.” (SV IV, 586-587).

Bagi Vinsensius orang miskin juga sakramen, tanda kehadiran Kristus. Baginya pelayanan kepada orang miskin sama nilainya dengan berdoa dan adorasi kepada Allah. Ia menasihati suster-suster Puteri Kasih untuk tidak takut “meninggalkan Tuhan untuk Tuhan”: “Jika kamu harus meninggalkan doa untuk mengunjungi orang sakit, tinggalkan doamu, karena kalau kamu meninggalkan Tuhan dalam doamu, kamu akan menemukanNya dalam diri orang yang sakit itu” (SV XI, 32).

Menurut Vinsensius, jika kita ambil bagian dalam karya Kristus, Kristus harus menjadi peraturan misi (SV XII, 130). Ia mengatakan kepada para misionarisnya bahwa yang paling penting bagi serikat adalah mengenakan Roh Kristus (RC I,3). “Para misionaris pewarta Injil kepada orang miskin, harus dipenuhi dengan “kasih dan hormat kepada Bapa; rasa cinta dan cinta yang tepat guna kepada kaum miskin, serta bersedia dibimbing oleh Penyelenggaraan Ilahi” (C 6). Berulang kali Vinsensius mengatakan kepada para misionarisnya untuk memasrahkan diri ke dalam tangan Allah. Percaya pada Penyelenggaraan Ilahi berbuah pada percaya kepada kehendak Allah, bahkan kalau hal itu menuntut atau menghantarnya pada “salib”. Vinsensius meyakini: “kita tidak dapat lebih yakin mengenai kebahagiaan abadi kita daripada dengan hidup dan mati untuk melayani orang miskin, dengan memasrahkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi, dan dengan menyangkal diri untuk mengikuti Kristus (SV III, 392).

Rabu, 27 Agustus 2008

KONTAK DENGAN ORANG PINGGIRAN

HOM (Hari Orang Miskin) adalah kegiatan kunjungan kepada orang miskin yang dilakukan oleh para frater Novis CM di Malang. Frater novis CM yang sekarang berjumlah 7 orang ini setiap hari minggu pagi sampai siang mengunjungi orang-orang miskin yang ada di kota Malang. Ada yang diberi tugas mengunjungi pengemis di alun-alun kota, pemulung yang tinggal di bawah jembatan sungai Brantas, dan anak-anak jalanan yang mengamen dan menjual koran di perempatan jalan.
Tujuan kegiatan ini bukan untuk mengisi acara seminari, tetapi untuk belajar melayani dan mencintai orang miskin. Sejak awal masuk Seminari Tinggi CM, para frater diajak untuk mempunyai kontak dengan orang miskin, mengenal situasi konkret orang miskin, mengetahui sebab-sebab kemiskinan, dan membiarkan diri dipenuhi dengan kasih Kristus untuk mencintai orang miskin. Dari sejumlah kontak dengan orang miskin, mereka tahu betapa orang-orang miskin itu tidak selalu menyenangkan, sabar, tekun bekerja, pasrah, dsb. Orang-orang miskin itu juga bau, kasar, selalu menuntut, malas, tidak tahu terimakasih, dsb. Bagaimanapun situasi hidup orang miskin, mereka harus memandang orang miskin sebagai majikan yang harus dilayani bukan karena uang, tetapi karena cinta.
Di samping sebagai majikan, orang-orang miskin itu guru. Mengapa? Kebutuhan dan situasi hidup mereka mengatakan kehendak Allah kepada kita. Mereka menunjukkan pedihnya kemiskinan. Dan mereka mengajari kita bagaimana menghadapi itu semua. Setelah bertemu dengan orang-orang miskin dalam kegiatan HOM, para novis CM diingatkan bahwa panggilannya adalah mencintai dan melayani orang miskin. St. Vinsensius mengatakan “kita telah dipilah Allah sebagai alat kasihNya, yang berkehendak meraja dalam diri orang miskin”. Pelayanan kepada orang miskin ini harus terus dilanjutkan, karena “kasih itu tidak bisa tinggal diam, tetapi menggerakkan kita untuk keselamatan dan penghiburan orang lain”. Vinsensius menghendaki pelayanan kepada orang miskin itu harus efektif, berguna bagi keselamatan jasmani dan rohani orang miskin. Mencintai orang miskin itu tidak cukup hanya dalam kata-kata, tetapi harus nyata dalam tindakan. Karena itu, dalam kegiatan HOM, para novis diminta untuk menjadi teman bagi orang miskin, membantu menjualkan koran, atau memilah-milah barang-barang yang telah dikumpulkan oleh para pemulung.
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini engkau lakukan untuk aku” (bdk Mat 25: 45). St. Vinsensius meyakini sabda Tuhan Yesus itu. Ia percaya bahwa orang miskin adalah gambar Tuhan Yesus, yang memilih menjadi miskin dan menyatakan diriNya dalam diri orang miskin. Berdasarkan iman ini para novis CM diajak untuk melihat Tuhan Yesus dalam diri saudara-saudarinya yang menjadi pemulung, pengamen, penjual koran, dan pengemis. Sebagaimana mereka mencintai Kristus yang tersalib, yang hidupNya dicurahkan untuk manusia, begitu pula mereka harus mencintai dan melayani saudara-saudari mereka yang miskin, yang di dalam diri mereka Kristus hadir. Di kemudian hari ketika frater-frater ini ditahbiskan, mereka menjadi imam-imam yang mencintai orang miskin. (Rm. Iwan, CM)

Menjadi Vinsensian di Bumi Nusantara

“Evangelizare pauperibus misit me” (Ia mengutus aku untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin, Luk 4:18). Semboyan ini menggerakkan St. Vinsensius dan putra-putranya untuk melayani orang miskin di mana saja, termasuk di negeri ini. Karya pelayanan di Indonesia dirintis oleh para misionaris CM dari Belanda. Pada tanggal 30 Juni 1923 kapal Johan de Witt yang membawa lima misionaris CM merapat di pelabuhan Batavia, setalah berhari-hari melakukan pelayaran yang jauh dan melelahkan dari Genoa - Italia. Kelima misionaris itu ialah Rm. Theophilus de Backere, Rm. Emile Sarneel, Rm. Rm. Yohannes Wolters, Rm. Theodorus Heuvelmans, dan Rm. Cornelius Klamer. Propaganda Fide memberi tugas kepada mereka untuk melayani umat dan mengembangkan Gereja di tiga karisidenan: Surabaya, Rembang, dan Kediri. Pada tahun 1928 karisidenan Madiun juga diserahkan kepada imam-imam CM. Sebelumnya wilayah-wilayah itu ditangani oleh para imam Jesuit.
Aneka kesulitan dan keterbatasan saat itu tidak menghalangi para misionaris ini untuk berkarya dan mengembangkan Gereja di tengah masyarakat Jawa. Dengan bantuan guru-guru dari Sekolah Guru Muntilan, para misionaris mendirikan sekolah-sekolah di banyak desa untuk mencerdasakan anak-anak miskin. Rumah sakit juga mereka bangun, terutama untuk melayani orang-orang miskin yang sakit. Karya yang baru tumbuh ini hancur ketika Jepang menduduki negeri ini. Gedung-gedung gereja dan sekolah dihancurkan. Sementara itu, imam-imam CM yang berasal dari Belanda ditahan oleh tentara Jepang. Akibatnya selama beberapa tahun umat tidak mendapatkan pembinaan iman. Situasi ini membuat para misionaris hampir putus asa. Di tengah keputusasaan mereka percaya kalau Tuhan tidak meninggalkan umatNya. Imam-imam pribumi dan umat saling membantu dalam memelihara dan mengembangkan iman kristiani.
Setelah Jepang meninggalkan negeri ini dan bangsa Indonesia merdeka, gereja mulai memulihkan diri. Salah satu buahnya ialah wilayah yang ditangani oleh imam-imam CM ini menjadi keuskupan pada tanggal 3 januari 1961. Saat ini keuskupan Surabaya berkembang pesat. Jumlah umat dan paroki terus bertambah. Perkembangan ini disertai dengan bertambahnya jumlah imam projo yang menggembirakan. Dengan demikian para imam CM bisa mengurangi karya paroki di keuskupan Surabaya dan mulai memberi perhatian pada karya-karya yang lebih sesuai dengan semangat kongregasi.
Selain berkarya di paroki-paroki di Keuskupan Surabaya (13 paroki), imam-imam CM Indonesia juga berkarya di Keuskupan Malang (1 paroki), Keuskupan Agung Jakarta (2 paroki), Keuskupan Agung Pontianak (1 paroki), Keuskupan Sintang (2 paroki), Keuskupan Banjarmasin (2 paroki) dan Keuskupan Sorong (1 paroki). Paroki-paroki CM yang berada di luar Jawa berada di pedalaman. Situasi yang sulit tidak menyurutkan semangat anggota CM untuk mewartakan kabar suka cita. Karya misi ke luar negeri (ad gentes) juga mendapat perhatian. Bagi St. Vinsensius mewartakan Kristus di daerah misi adalah sebuah keharusan, sebab tidak mengenal Kristus merupakan kemiskinan yang paling besar. Sekarang ada banyak imam CM Indonesia yang dikirim untuk bermisi ke Taiwan, ke Papua New Guinea (selain menangani paroki juga mengurusi para pengungsi dari Papua yang sangat membutuhkan perhatian), dan ke Solomon Island (bekerja di seminari, menyiapkan para calon imam projo).
Pada zaman St. Vinsensius, umat katolik Perancis yang hidup di pedesaan mengalami kemiskinan baik jasmani maupun rohani (karena tidak terlayani). Para imam lebih senang bekerja di kota-kota besar, karena di kota mereka mendapat fasilitas, kekayaan, dan kekuasaan. Prihatin dengan situasi seperti itu, St. Vinsensius mengadakan misi umat. Dalam kegiatan misi umat itu para imam berkhotbah, mengajar katekismus, dan mendengarkan pengakuan dosa. Inilah cikal bakal Misi Umat Vinsensian yang dilakukan oleh CM propinsi Indonesia. Tujuan utama misi umat ini adalah membantu umat untuk mengembangkan mutu imannya sendiri dan untuk menyegarkan semangat menggereja. Selama kegiatan misi umat, para frater dan imam CM membina umat dengan berbagai kegiatan: pendalaman iman, kunjungan keluarga, sakramen tobat, ekaristi, dll. Sejak tahun 2002 kegiatan misi umat ini mulai dilaksanakan di luar keuskupan Surabaya, yaitu di keuskupan Malling dan Banjarmasin.
St. Vinsensius melihat dan menyadari bahwa salah satu sebab kemunduran Gereja karena imam-imamnya yang tidak terdidik dan kurangnya pembinaan bagi para imam itu. Ia berpendapat bahwa imam yang mendapat pembinaan yang baik dapat memberi pelayanan kepada Gereja dengan baik. Karena itu, St. Vinsensius mengusahakan pembinaan para calon imam dengan menugaskan para anggota CM di seminari-seminari. Vinsensius juga memikirkan pembinaan bagi mereka yang sudah menjadi imam. Hingga saat ini pembinaan calon imam di seminari mendapat perhatian besar. Para imam CM terlibat dalam pembinaan calon imam di Seminari Menengah Keuskupan Surabaya dan Sintang, Seminari Tinggi calon imam projo di Malang dan Pontianak, dan di STFT Widya Sasana Malang. Pembinaan calon imam dan para imam yang ditangani oleh imam-imam CM mempunyai warna khusus, yaitu pembinaan kemampuan untuk melayani umat sebagai gembala yang cinta kepada orang miskin.
Selain menekuni bidang pendidikan untuk para calon imam, imam-imam CM propinsi Indonesia juga bergerak di karya pendidikan sekolah. Karya pendidikan yang diasuh oleh CM mulai dari SD, SMP, hingga STM dan SMA. Anak-anak dididik untuk tidak hanya unggul dalam bidang akademis tetapi juga unggul dalam sisi humanitasnya. Anak-anak dididik untuk peduli dengan realitas sosial di lingkungan mereka. Melalui berbagai kegiatan sosial, mereka diajak untuk solider dengan hidup orang-orang miskin. Semangat melayani orang miskin diharapkan semakin bertumbuh setelah mereka menyelesaikan pendidikan di sekolah.
Setelah 83 tahun berkarya di Indonesia, CM propinsi Indonesia mulai mengkhususkan diri untuk menangani karya-karya yang lebih sesuai dengan kharisma Vinsensius. Saat ini setiap anggota CM ditantang untuk bertanya: melihat situasi dunia dan kebutuhan Gereja saat ini kira-kira apa yang akan dilakukan oleh St. Vinsensius? Jawaban-jawaban nyata sudah mulai kelihatan. Cinta akan orang miskin, cacat fisik dan mental, anak yatim piatu mendorong Rm. P. Janssen CM memulai karya Bhakti Luhur. Rm. E. Fervari CM membuka Wireskat (Wisma Rehabilitasi Orang Sakit Kusta) di Blora. Orang-orang yang pernah sakit kusta dan tidak diterima keluarga diberi tempat tinggal dan diberi kesempatan untuk mampu hidup mandiri. Di Surabaya sudah lama didirikan KPK (Kerukunan Pekerja Katolik) yang mendampingi para buruh yang tinggal di sekitar kota Surabaya. Untuk mendampingi anak-anak jalanan didirikan YMM (Yayasan Merah Merdeka). Di Malang ada VCI (Vincentian Center Indonesia) yang bergerak dalam pelayanan pendampingan buruh dan pendampingan belajar anak-anak miskin. Di Nanga Pinoh (Kalimantan Barat) didirikan kursus ketrampilan dan evangelisasi yang diberi nama “John Gabriel Perboyre Center”. Anak-anak muda yang berasal dari kampung-kampung diberi ketrampilan dan diajari menjadi pewarta. Tujuannya adalah menjadikan mereka orang yang mandiri sekaligus mampu menjadi pelayan umat. Karya-karya yang sudah lama dirintis, seperti SSV (Serikat Sosial Vinsensius) terus dikembangkan. Kerjasama dengan kongregasi, serikat atau organisasi awam yang dijiwai oleh semangat pelayanan St. Vinsensius seperti PK, SCMM, CMM, KYM, PMY, ALMA, FC, Persaudaraan Kasih, SSV, dll untuk melayani orang-orang miskin juga semakin ditumbuhkan. Dengan demikian semakin banyak orang, lebih-lebih mereka yang miskin mengalami kasih Allah. (Rm Iwan CM)