Rabu, 27 Agustus 2008

Menjadi Vinsensian di Bumi Nusantara

“Evangelizare pauperibus misit me” (Ia mengutus aku untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin, Luk 4:18). Semboyan ini menggerakkan St. Vinsensius dan putra-putranya untuk melayani orang miskin di mana saja, termasuk di negeri ini. Karya pelayanan di Indonesia dirintis oleh para misionaris CM dari Belanda. Pada tanggal 30 Juni 1923 kapal Johan de Witt yang membawa lima misionaris CM merapat di pelabuhan Batavia, setalah berhari-hari melakukan pelayaran yang jauh dan melelahkan dari Genoa - Italia. Kelima misionaris itu ialah Rm. Theophilus de Backere, Rm. Emile Sarneel, Rm. Rm. Yohannes Wolters, Rm. Theodorus Heuvelmans, dan Rm. Cornelius Klamer. Propaganda Fide memberi tugas kepada mereka untuk melayani umat dan mengembangkan Gereja di tiga karisidenan: Surabaya, Rembang, dan Kediri. Pada tahun 1928 karisidenan Madiun juga diserahkan kepada imam-imam CM. Sebelumnya wilayah-wilayah itu ditangani oleh para imam Jesuit.
Aneka kesulitan dan keterbatasan saat itu tidak menghalangi para misionaris ini untuk berkarya dan mengembangkan Gereja di tengah masyarakat Jawa. Dengan bantuan guru-guru dari Sekolah Guru Muntilan, para misionaris mendirikan sekolah-sekolah di banyak desa untuk mencerdasakan anak-anak miskin. Rumah sakit juga mereka bangun, terutama untuk melayani orang-orang miskin yang sakit. Karya yang baru tumbuh ini hancur ketika Jepang menduduki negeri ini. Gedung-gedung gereja dan sekolah dihancurkan. Sementara itu, imam-imam CM yang berasal dari Belanda ditahan oleh tentara Jepang. Akibatnya selama beberapa tahun umat tidak mendapatkan pembinaan iman. Situasi ini membuat para misionaris hampir putus asa. Di tengah keputusasaan mereka percaya kalau Tuhan tidak meninggalkan umatNya. Imam-imam pribumi dan umat saling membantu dalam memelihara dan mengembangkan iman kristiani.
Setelah Jepang meninggalkan negeri ini dan bangsa Indonesia merdeka, gereja mulai memulihkan diri. Salah satu buahnya ialah wilayah yang ditangani oleh imam-imam CM ini menjadi keuskupan pada tanggal 3 januari 1961. Saat ini keuskupan Surabaya berkembang pesat. Jumlah umat dan paroki terus bertambah. Perkembangan ini disertai dengan bertambahnya jumlah imam projo yang menggembirakan. Dengan demikian para imam CM bisa mengurangi karya paroki di keuskupan Surabaya dan mulai memberi perhatian pada karya-karya yang lebih sesuai dengan semangat kongregasi.
Selain berkarya di paroki-paroki di Keuskupan Surabaya (13 paroki), imam-imam CM Indonesia juga berkarya di Keuskupan Malang (1 paroki), Keuskupan Agung Jakarta (2 paroki), Keuskupan Agung Pontianak (1 paroki), Keuskupan Sintang (2 paroki), Keuskupan Banjarmasin (2 paroki) dan Keuskupan Sorong (1 paroki). Paroki-paroki CM yang berada di luar Jawa berada di pedalaman. Situasi yang sulit tidak menyurutkan semangat anggota CM untuk mewartakan kabar suka cita. Karya misi ke luar negeri (ad gentes) juga mendapat perhatian. Bagi St. Vinsensius mewartakan Kristus di daerah misi adalah sebuah keharusan, sebab tidak mengenal Kristus merupakan kemiskinan yang paling besar. Sekarang ada banyak imam CM Indonesia yang dikirim untuk bermisi ke Taiwan, ke Papua New Guinea (selain menangani paroki juga mengurusi para pengungsi dari Papua yang sangat membutuhkan perhatian), dan ke Solomon Island (bekerja di seminari, menyiapkan para calon imam projo).
Pada zaman St. Vinsensius, umat katolik Perancis yang hidup di pedesaan mengalami kemiskinan baik jasmani maupun rohani (karena tidak terlayani). Para imam lebih senang bekerja di kota-kota besar, karena di kota mereka mendapat fasilitas, kekayaan, dan kekuasaan. Prihatin dengan situasi seperti itu, St. Vinsensius mengadakan misi umat. Dalam kegiatan misi umat itu para imam berkhotbah, mengajar katekismus, dan mendengarkan pengakuan dosa. Inilah cikal bakal Misi Umat Vinsensian yang dilakukan oleh CM propinsi Indonesia. Tujuan utama misi umat ini adalah membantu umat untuk mengembangkan mutu imannya sendiri dan untuk menyegarkan semangat menggereja. Selama kegiatan misi umat, para frater dan imam CM membina umat dengan berbagai kegiatan: pendalaman iman, kunjungan keluarga, sakramen tobat, ekaristi, dll. Sejak tahun 2002 kegiatan misi umat ini mulai dilaksanakan di luar keuskupan Surabaya, yaitu di keuskupan Malling dan Banjarmasin.
St. Vinsensius melihat dan menyadari bahwa salah satu sebab kemunduran Gereja karena imam-imamnya yang tidak terdidik dan kurangnya pembinaan bagi para imam itu. Ia berpendapat bahwa imam yang mendapat pembinaan yang baik dapat memberi pelayanan kepada Gereja dengan baik. Karena itu, St. Vinsensius mengusahakan pembinaan para calon imam dengan menugaskan para anggota CM di seminari-seminari. Vinsensius juga memikirkan pembinaan bagi mereka yang sudah menjadi imam. Hingga saat ini pembinaan calon imam di seminari mendapat perhatian besar. Para imam CM terlibat dalam pembinaan calon imam di Seminari Menengah Keuskupan Surabaya dan Sintang, Seminari Tinggi calon imam projo di Malang dan Pontianak, dan di STFT Widya Sasana Malang. Pembinaan calon imam dan para imam yang ditangani oleh imam-imam CM mempunyai warna khusus, yaitu pembinaan kemampuan untuk melayani umat sebagai gembala yang cinta kepada orang miskin.
Selain menekuni bidang pendidikan untuk para calon imam, imam-imam CM propinsi Indonesia juga bergerak di karya pendidikan sekolah. Karya pendidikan yang diasuh oleh CM mulai dari SD, SMP, hingga STM dan SMA. Anak-anak dididik untuk tidak hanya unggul dalam bidang akademis tetapi juga unggul dalam sisi humanitasnya. Anak-anak dididik untuk peduli dengan realitas sosial di lingkungan mereka. Melalui berbagai kegiatan sosial, mereka diajak untuk solider dengan hidup orang-orang miskin. Semangat melayani orang miskin diharapkan semakin bertumbuh setelah mereka menyelesaikan pendidikan di sekolah.
Setelah 83 tahun berkarya di Indonesia, CM propinsi Indonesia mulai mengkhususkan diri untuk menangani karya-karya yang lebih sesuai dengan kharisma Vinsensius. Saat ini setiap anggota CM ditantang untuk bertanya: melihat situasi dunia dan kebutuhan Gereja saat ini kira-kira apa yang akan dilakukan oleh St. Vinsensius? Jawaban-jawaban nyata sudah mulai kelihatan. Cinta akan orang miskin, cacat fisik dan mental, anak yatim piatu mendorong Rm. P. Janssen CM memulai karya Bhakti Luhur. Rm. E. Fervari CM membuka Wireskat (Wisma Rehabilitasi Orang Sakit Kusta) di Blora. Orang-orang yang pernah sakit kusta dan tidak diterima keluarga diberi tempat tinggal dan diberi kesempatan untuk mampu hidup mandiri. Di Surabaya sudah lama didirikan KPK (Kerukunan Pekerja Katolik) yang mendampingi para buruh yang tinggal di sekitar kota Surabaya. Untuk mendampingi anak-anak jalanan didirikan YMM (Yayasan Merah Merdeka). Di Malang ada VCI (Vincentian Center Indonesia) yang bergerak dalam pelayanan pendampingan buruh dan pendampingan belajar anak-anak miskin. Di Nanga Pinoh (Kalimantan Barat) didirikan kursus ketrampilan dan evangelisasi yang diberi nama “John Gabriel Perboyre Center”. Anak-anak muda yang berasal dari kampung-kampung diberi ketrampilan dan diajari menjadi pewarta. Tujuannya adalah menjadikan mereka orang yang mandiri sekaligus mampu menjadi pelayan umat. Karya-karya yang sudah lama dirintis, seperti SSV (Serikat Sosial Vinsensius) terus dikembangkan. Kerjasama dengan kongregasi, serikat atau organisasi awam yang dijiwai oleh semangat pelayanan St. Vinsensius seperti PK, SCMM, CMM, KYM, PMY, ALMA, FC, Persaudaraan Kasih, SSV, dll untuk melayani orang-orang miskin juga semakin ditumbuhkan. Dengan demikian semakin banyak orang, lebih-lebih mereka yang miskin mengalami kasih Allah. (Rm Iwan CM)

Tidak ada komentar: