Vinsensius de Paul lahir dari keluarga petani yang sederhana di Perancis (1581-1660). Ia dididik menjadi seorang yang suka bekerja keras, ulet, dan punya semangat untuk maju dalam hidup. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 1600. Dengan menjadi imam, ia berharap bisa menyejahterakan dan mengangkat status keluarganya dengan pendapatan yang ia peroleh sebagai seorang imam. Berbagai usaha dia lakukan untuk mendapatkan kedudukan dalam gereja, tetapi kerap gagal.
Situasi Perancis pada saat itu diwarnai dengan persoalan kemiskinan. Sebagian besar warga hidup dalam kemiskinan. Negara tidak peduli orang-orang miskin. Kaum bangsawan hanya mengurusi urusan politik, mereka jauh dari kehidupan rakyat miskin. Sementara itu Gereja kurang terlibat dalam karya untuk orang miskin. Imam-imam banyak tinggal di kota-kota tanpa berbuat apa-apa. Imam-imam yang ditugaskan di desa-desa tidak cakap dan bermasalah dalam hal moral. Situasi ini membuat orang miskin semakin terlantar, juga dalam hal iman.
Vinsensius de Paul menanggapi situasi kemiskinan itu. Ketika menjadi pembimbing rohani keluarga
Kristus hidup dalam diri orang miskin
Pengalaman kontak dengan orang miskin membuat Vinsensius memandang Kristus sebagai pewarta Injil kepada orang miskin, Evangelizare Pauperibus Misit Me (Luk 4:18-19). Kristus dipandang sebagai pribadi yang hidup dalam diri kaum miskin: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Ia menyadari bahwa cinta kepada Allah itu tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada sesama yang miskin.
Keyakinan bahwa Kristus hadir dalam diri orang miskin mengubah cara pandang Vinsensius dalam memandang dan memperlakukan orang miskin. Ia memandang orang miskin sebagai “guru dan majikan”. Orang miskin itu guru karena kita dapat belajar kebijaksanaan hidup dari mereka. Orang miskin itu majikan karena kita adalah hamba dan pelayan mereka. Hanya dengan mata iman kita dapat menjumpai Kristus dalam pribadi orang miskin dan melayani orang miskin sebagai tuan dan majikan. Vinsensius mengatakan: “Hendaknya kalian semua sering merenungkan bahwa tugas terpenting dan apa yang diminta dari Allah dari kalian ialah setia melayani orang-orang miskin, yang adalah tuan-tuan kita…” (SV IX, 119).
Vinsensius melakukan karya untuk orang miskin ini dengan kasih, dan ia menghendaki karya itu kita lakukan juga, karena “kita telah dipilih Allah sebagai alat kasihNya, yang berkehendak meraja dalam diri orang miskin” (SV XII, 262). Dan karya kasih ini harus terus kita lakukan, karena “kasih itu tidak bisa tinggal diam, tetapi menggerakkan kita untuk keselamatan dan penghiburan orang lain” (SV XII, 265). Ia juga mengatakan, “Saya diutus bukan hanya untuk mencintai Allah, tetapi untuk membuat Allah dicintai” (SV XII, 262). Vinsensius menghayati kata-katanya ini. Hidupnya dipenuhi dengan karya kasih untuk orang miskin: perawatan bayi-bayi yang dibuang, pendampingan para budak, pemberian bantuan kepada korban perang dan wabah penyakit, pendirian rumah sakit untuk orang-orang miskin, dll. Ia membuat dirinya lelah demi melayani dan membebaskan orang miskin. “Jelaslah bagi saya bahwa saya akan melukai Allah, jika saya tidak melakukan apa saja yang mungkin bagi orang-orang miskin di pedesaan.” (SV IV, 586-587).
Bagi Vinsensius orang miskin juga sakramen, tanda kehadiran Kristus. Baginya pelayanan kepada orang miskin sama nilainya dengan berdoa dan adorasi kepada Allah. Ia menasihati suster-suster Puteri Kasih untuk tidak takut “meninggalkan Tuhan untuk Tuhan”: “Jika kamu harus meninggalkan doa untuk mengunjungi orang sakit, tinggalkan doamu, karena kalau kamu meninggalkan Tuhan dalam doamu, kamu akan menemukanNya dalam diri orang yang sakit itu” (SV XI, 32).
Menurut Vinsensius, jika kita ambil bagian dalam karya Kristus, Kristus harus menjadi peraturan misi (SV XII, 130). Ia mengatakan kepada para misionarisnya bahwa yang paling penting bagi serikat adalah mengenakan Roh Kristus (RC I,3). “
